Ahad, 20 Mei 12
Hendak Login? · Daftar
HomePerihalBuku Tamu
ditulis oleh Muchson pada Jumat, 06 Oktober 06kategori "AGAMA" ,dengan komentar yang belum ditulis padanya

Waspada Terhadap Pendidikan Kapitalis

Godaan duniawi saat ini, yang kita kenal dengan jahiliyah modern, sudah demikian merasuk dalam sendi-sendi kehidupan. Bukan lagi sekedar fasilitas fisik, iming-iming materi, maupun kemudahan teknologi tapi juga ke dalam pendidikan anak sekolah. Ideologi kapitalis dengan sistem ekonominya sudah menjerat demikian dalam merasuki hati sanubari dan tanpa sadar menjadi menu kita sehari-hari. Marilah kita lihat, sebagai satu kasus, bagaimana pendidikan jahiliyah modern tanpa sadar telah merasuk dalam kebanyakan masyarakat muslim. Bila ada pertanyaan : sebutkan urut-urutan kebutuhan manusia? Jawabnya adalah : 1. Kebutuhan Primer (Utama), terdiri dari : a. Kebutuhan akan Pangan b. Kebutuhan akan Papan (rumah empat tinggal) c. Kebutuhan akan Sandang (Pakaian) 2. Kebutuhan Sekunder (Tambahan) Kebutuhan akan kenyamanan hidup (TV,Kendaraan & fasilitas lainnya) Kebutuhan sosial (pertemanan, kedudukan, jabatan, kehormatan, pengakuan lingkungan dll) Ajaran ini telah masuk dalam buku pelajaran IPS untuk anak-anak kita yang masih kelas 6 SD. Naudzubillahimindzalik. Dimana tanggungjawab kita sebagai orang tua? Bukankah orang tua yang akan menjadikan anak-anak kita jadi majusi, nasrani, yahudi atau muslim? Mau dikemanakan anak-anak ini bila kita sebagai orang tua membiarkan doktrin jahiliyah sudah dimulai sejak anak SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi sampai di lingkungan kerja. Sehingga pada gilirannya, secara sistimatis ajaran itu melekat dalam ingatan siswa. Perlahan-lahan, generasi demi generasi, otaknya, akalnya, pola pikirnya, gaya hidupnya menuju kepada tata kehidupan yang mengenyampingkan Allah. Teori kebutuhan manusia yang demikian tadi, secara logika benar dan sah-sah saja. Namun inilah biang utama anak-anak kita diajar menjadi seorang yang materialis, yang hanya memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan fisik duniawi semata. Tidak heran bila kita saksikan banyak orang tua terperosok dalam korupsi, keculasan, kecurangan, kejahatan dan kezaliman. Karena pola pikirnya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hawa nafsunya. Mereka mempunyai hati tapi tidak untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka mempunyai mata tetapi tidak untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah. Mereka mempunyai telinga tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. (Al-A?raf [7:179]) Meeka berpaling dari Allah karena mengharapkan perhiasan dunia, mengikuti ajaran orang-orang yang lalai dari mengingat Allah serta hanya mengikuti kemauan hawa nafsunya (Al-Kahfi [18:28]. Bangga dengan banyaknya harta dan pengikut (Al-Kahfi [18:34]) yang akhirnya sewaktu Allah membinasakan harta kekayaannya mereka membolak-balikkan tangan, menyesal terhadap apa yang telah ia belanjakan selama ini (Al-Kahfi [18:42]). Mereka memuja kehidupan dunia yang hakekatnya hanyalah permainan dan senda gurau belaka, bermegah-megah dengan rezeki dari Allah dan merasa hebat dengan banyaknya harta dan anak. Padahal kehidupan dunia ini adalah kesenangan yang menipu (Al-Hadid [19:20]). Kebutuhan manusia menurut teori ekonomi jahiliyah secara harfiah memang benar. Mereka mencontoh bagaimana perilaku fisik manusia purba. Kegiatan utamanya adalah berburu untuk mendapatkan makanan, kemudian mencari tempat berteduh. Sama persis dengan yang dilakukan hewan. Seiring dengan kemajuan peradaban (ini salah satu hal yang membedakan manusia dengan hewan), mereka menggunakan pakaian. Namun ada hal yang dilupakan para pengikut jahiliyah yaitu bahwa manusia purbapun memiliki keyakinan akan adanya kekuasaan diluar dirinya, animisme maupun dinamisme. Mereka yakin bahwa ada kekuasan diluar kekuasaan dirinya yang senantiasa mengawasi, mengatur dan menentukan jalan hidupnya. Maka untuk mendapatkan restu dari ?sang penguasa alam? mereka rela memberika persembahan kepada tuhannya berupa harta maupun nyawa. Bukan hanya sewaktu akan berburu atau bertanam, bahkan sewaktu memetik hasil kerjanya pun mereka melakukan persembahan. Hal inilah yang dihilangkan oleh pengikut jahiliyah modern tersebut. Barangkali sampai disini kita kalah dalam hal pengabdian kepada tuhan. Apakah sebelum berangkat kerja, bepergian jauh, merantau, mencari nafkah, ingatkah kita untuk membuat persembahan kepada Allah? Bahkan untuk do?a pun mungkin terlupakan. Lantas bagaimana teori kebutuhan itu kita biarkan lepas sama sekali dari kebutuhan akan pengabdian kepada Allah SWT? Ingat indoktrinasi ini sudah diajarkan dari anak-anak sejak kelas 5 SD. Oleh karena itu, sebagai khalifah di bumi maka tugas yang diemban adalah berjihad dalam membumikan ajaran ilahi serta sunah Rasulullah SAW. Termasuk diantaranya adalah berjihad merombak pendidikan jahiliyah untuk menciptakan Sekolah Unggulan yang diridhoi Allah SWT. Janganlah kalah dengan ajaran manusia purba dan membiarkan sang jahiliyah menipu dan mengajar anak-anak kita. Mungkin sudah saatnya MTA mempelopori penyusunan materi pengajaran yang islami. Insya Allah.
HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUT...
REFLEKSI MUSIBAH GEMPA BUMI & TSUNAMI ...

Pernahkah Kita Bertanya ?
When I Need Loves ......
Menghamba Sepenuh Jiwa Raga
Beragama Dengan Benar
Dasyatnya Cinta
Untuk para suami
True Love
Jangan Bosan Sabar
calon PENGHUNI....
Nasehat Rosulullah Sambut Ramadhan
Begitukah Seharusnya Anak Setelah Jadi Istri
Sepertinya Akan Berlanjut Bencana Ini
MILAD, Antara Haram dan Halal
AKAL SEHAT MENOLAK FAHAM SESAT (beriman saja koq repot)
NASIHAT
Ajarkan Lagi Kepadaku Ibu
Hati yang buta
Ramadhan - BUKAN BULAN SUCI
Cuma Sekedar Cross Check Tulisan Muh Nur
Motivasi Islami

Nama
*)
Email
*)
Website

kode


Komentar
berikan emoticon :
selebihnya ยป

belum ada komentar untuk tulisan terkait, jadilah yang pertama

Menuju ke Form