Ahad, 20 Mei 12
Hendak Login? · Daftar
HomePerihalBuku Tamu
ditulis oleh Adi Wirawan pada Jumat, 3 April 09kategori "AGAMA" ,dengan 2 komentar

Untuk Sebuah Salah Sambung...

Untuk sebuah cerita salah sambung aku kembali ingat ayah ibu di rumah.

Untuk sebuah salah sambung pula aku kembali merasakan nikmatnya punya keluarga.

Untuk sebuah salah sambung juga aku kembali mengingat isian dari Ustadz Widi tadi pagi.

Kala itu udara begitu lengas, ditemani jemari lentik hujan yang mengayuh tanpa membebani hati. Sore itu semua masih biasa, saia tetap berada di depan monitor untuk sekadar menulis, mencoba dan mencoba.

Apa yang istimewa dari sore itu selain sebuah cerita bahwa ini hari Jumat, sebuah nama hari yang untuk sebagian kalangan menjadi sebuah hari luar biasa bagaikan angin segar yang membawa ceria semua dataran gersang. Adalah sesuatu kebetulan yang sungguh menjadi suatu syukur yang dalam.

Handphone ku berbunyi, memekik, membuncah sunyi seluruh ruangan. Semua terdiam hanya suara bising komputer tetangga yang tetap tidak tergoyahkan kemasyhurannya oleh sebuah nada dering dari handphone ku.

Kuangkat dengan perlahan sebuah nomor yang belum ada di list ku. Suara tua itu nyaris menggetarkan seisi tubuh ku, bergetar dan sungguh hampir bergetar. Suara tua yang dengan nada sayup-sayup, berwibawa dan merendah seolah mengharap sesuatu yang begitu jauh untuk di raih. Suara bapak tua yang mengucap, "Halo wan, halo?".

Beberapa kata yang keluar dari speaker handphone ku ini cukup menggerus hampir sebagian pikiran, kujawab pelan,"Halo?".

Bapak itu pun kembali melanjutkan,"Piye, ono kabar opo wan?", kalimat yang singkat  namum cukup mujarab. Mujarab untuk melumat habis semua 'kesombongan'. Sebuah nada yang aneh, sebuah sapaan yang jarang kudengar untuk disebut buat namaku, suara yang begitu asing di teligaku, nomor yang juga asing untuk diyakini kalau ini dari orang tuaku.

Kucoba untuk tetap tenang dengan semuanya, dengan suara bapak tersebut. Walaupun pikiranku melanglang menerawang hingga tak tahu ke mana. Semua permisalan lantas tiba-tiba keluar, seolah pikiran ku mencoba menembus semua kemungkinan yang akan terjadi dari sebuah suara yang keluar dari handphone ku. Pikiranku semakin bercabang, melambung, Namun ketika sudah pada batasnya aku kembali tersadar.

Maka terputuskan sudah, salah sambung telah terjadi. Kuberanikan untuk mengucap,"Nyuwun ngapunten pak, salah sambung?" dengan nada agak gagap bapak itu pun menutup sebuah calling an yang maha dahsyat itu.

Galat itu pun menjadi sebuah berkah, berkah yang sungguh luar biasa.

Tiada bisa terbayang kalau itu merupakan telphon yang dilakukan oleh keluargaku terhadap diriku. Kalau sampeyan-sampeyan mendengar suara bapak itu, saya berani yakin kalau sampeyan akan berfikir sama. Suara nya begitu melemas, rendah, datar dan terdengar sedikit pesakitan. Seakan beliau begitu merindu.

Dan terima kasih untuk semuanya ya Allah, untuk nikmat keluarga yang aku miliki saat ini. Untuk nikmat ayah ibu dan kakak dengan segala kelebihan dan kekurangan yang beliau-beliau miliki. Entah bagaimana beliau-beliau mendidik ku, ku yakin itu merupakan usaha terbaik yang beliau-beliau lakukan demi kebaikanku. 
Dasyatnya Cinta
Apakah kita pasrah dengan ketidak berda...

Baca sambil minum kopi n makan blanggreng...wah, sip tenan ki
Beragama Dengan Benar
Menyikapi perbedaan Pendapat
Nasehat Rosulullah Sambut Ramadhan
Sepercik Cahaya dari Allah
Ramadhan - BUKAN BULAN SUCI
HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN
Hati-Hati Juga Penting
jangan cemberut
Sebuah renungan
REFLEKSI MUSIBAH GEMPA BUMI & TSUNAMI DI ACEH
When I Need Loves ......
AWAS ALLAH CEMBURU LHO!
pikir...
MILAD, Antara Haram dan Halal
AKAL SEHAT MENOLAK FAHAM SESAT (beriman saja koq repot)
Ternyata Neraka itu Lebih Mahal dari pada Surga
Indahnya Malam Pertama
Untuk para suami
Waspada Terhadap Pendidikan Kapitalis

Nama
*)
Email
*)
Website

kode


Komentar
berikan emoticon :
selebihnya ยป

terdapat 2 komentar untuk tulisan ini

1 | Senin, 6 April 09
fajar

indah memang mempunyai keluarga


2 | Selasa, 7 April 09
kopaska

betul sahabat. keluarga itu memang indah. tanpa keluarga pasti kita tak terlahir di dunia yang indah ini.


Menuju ke Form