ditulis oleh Dora_5h4n3 pada Senin, 14 Mei 07kategori "AGAMA" ,dengan 1 komentarUntuk para suami
Assalamu?alaikum wr wb
Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta (untuk para suami)
Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tidak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barang kali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.
Sesudahnya bayangkanlah tentang esok hari. Di saat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telingannya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya.
Di saat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia? Masihkah anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam bicara, halus dalam memilih kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi,masihkah anda sampai hati mendambakan tentang seseorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja ini bukan bermaksud menganjak anda membiarkan istri kita membentak anak-anak dengan mata membelalak atau menagajarkannya agar tidak perlu taat dan hormat kepada sang suami. Tidak. Ini hanya sekedar untuk mengajak sang suami melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tidak sabar. Begitupula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakkan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah, tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, mesti tak pernah meminta kepada anda. Sementara gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwannya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan untuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali diri anda sendiri jika tiba-tiba ia meledak.
Alhasil, ada yang harus kita benahi dalam jiwa kita. Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin, apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari, ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang. Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak kita. Sepenat apapun ia.
Ada lagi yang lain: pengakuan. Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi masihkah kita menunggu sampai mukanya berkerut-kerut. Karenannya, ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri anda yang terbaring letih itu. Lalu pikirkanlah sejenak, tak adakah yang bisa kita lakukan sekedar untuk mengucapkan terimakasih atau menyatakan sayang? Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta. Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, ?Ada secangkir minuman hangat untukmu. Perlukah aku hantarkan itu kemari??
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tidak salah niat kita. Kalau kita terlibat denagn pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridho Allah. Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kita lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah.
?Alaa kulli hal,Apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terimakasih atau tindakan yang menunjukan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada air mata duka yang menetes dari kedua kelopaknya. Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda ?Aisyah radiallahu?anha berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW., ?Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.?
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya. Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Semoga kita termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah kita ingat kembali ketika Rasullullah SAW, berpesan tentang istri kita. ??Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas mereka. ??Ketahuilah, ??kata Rasullullah SAW, melanjutkan, ??Kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan kitap Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik.??
Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita harus melaporkan kepada Allah bagaimana kita menunaikan amanah dari-Nya untuk mencintai, menyayangi dan membimbingnya ke jalan yang benar. Saya tidak tahu apakah kita mengabaikannya sehingga gurat-gurat ketuaan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh dari usia sebenarnya? Ataukah, kita masih sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri kita? Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami saya sudah cukup baik, atau jangan-jangan tidak ada sedikitpun kebaikan saya di mata istri. Saya hanya berharap istri saya berkenan memaafkan kekurangan saya sebagai suami. Sesudahnya, semoga ada kerelaan untuk menerima saya apa adanya.
Cintailah aku
MILAD, Antara Haram dan Halal
Memahami Perbedaan
calon PENGHUNI....
Bedakah Milad Individu dengan Milad
Halaqoh/Firqoh?
BERHATI-HATI DALAM MEMBERI FATWA
Hati-Hati Juga Penting
Sepercik Cahaya dari Allah
When I Need Loves ......
February, 3 2009 in Ngawen
Begitukah Seharusnya Anak Setelah Jadi Istri
Resep Kue Pernikahan
REFLEKSI MUSIBAH GEMPA BUMI & TSUNAMI DI ACEH
dEEpEsT...
True Love
Ramadhan - BUKAN BULAN SUCI
Menyikapi perbedaan Pendapat
AWAS ALLAH CEMBURU LHO!
NASIHAT
Dasyatnya Cinta
terdapat Satu komentar untuk tulisan ini
1 | Senin, 27 April 09
mawar biru
untuk para suami...ragukah anda dengan pengorbanan
dan pengabdian tulus isteri-isteri anda...kalau
ya...kenapa anda dulu memilihnya menjadi pasangan
hidup anda???semikan lagi KASIH SAYANG...yang
mulai menguap!
Menuju ke Form