Ahad, 20 Mei 12
Hendak Login? · Daftar
HomePerihalBuku Tamu
ditulis oleh alkhansa pada Selasa, 10 Nopember 09kategori "PERKULIAHAN" ,dengan 1 komentar

Suatu Ketika, Ada yang Tak Sempurna

ada sesuatui yang bedaSaya bekerja disebuah instansi yang menyediakan jasa pelayanan Tim medis ke rumah, orang biasa menyebutnya layanan Home Care. Disana, saya bertemu dengan seorang pria dengan tubuh agak tambun berjalan tergopoh disertai keringat yang menetes dari keningnya. Menurut saya, beliau berusia lima puluhan tahun. Ia mengeluh kepada saya, yang pada waktu itu bertindak sebagai customer service. Ia mengeluhkan kondisi putranya yang masih muda, yang berstatus mahasiswa di universitas ternama di Jogja. Kata beliau dengan penuh kemantapan, bahwa anaknya sekarang menderita kelainan jiwa. “Lho, emang kenapa Pak?” saya mencoba mengeksplor lebih jauh. Tidak diketahui penyebabnya secara pasti, semenjak setahun yang lalu ia mengambil cuti dan sampai sekarang tidak melanjutkan kuliahnya lagi, padahal sudah hampir lulus, sekarang sedang dalam proses skripsi, inti dari penuturan beliau.

Ia suka menyendiri, dan mudah tersinggung jika mendengar suara bernada keras. Pernah suatu saat ada tukang bakso yang sedang menawarkan baksonya lewat didepan rumah, tentu dengan isyarat bunyi mangkok yang dipukul secara berirama, ting! Ting! Ting! Ting!! Layaknya pukulan seorang tukang bakso. Oleh Si putra bapak tadi, Si tukang bakso di datangi dan dimarahi habis-habisan. Menurutnya suara itu mengganggunya. Lantas dilain kesempatan, ibunya yang sedang masak di dapur dibanting hingga merintih kesakitan. Untung lah waktu itu Si bapak sedang dirumah, lalu beliau segera mencegah dan membantu Si Ibu untuk bangun kembali.

Malam baginya adalah siang, begitu pula sebailknya siang adalah malam. Waktunya dimalam hari dihabiskan didepan internet dan ngegame, sambil ketawa ketiwi dan berbicara sendiri. Tentu computer dinyalakannya sampai pagi. Suka menyendiri dan sulit berkomunikasi. Suatu saat Si Bapak mencoba mengklarifikasi ke kampusnya untuk minta kejelasan dari para dosen dan teman dekatnya, ‘sebenarnya apa yang terjadi sehingga anak saya bertingkah laku seperti ini?’

Pfff…! saya hanya bisa ikut prihatin atas kondisinya.

 “Terkadang ia juga mengajak diskusi, dimana Tuhan? lalu kita ini siapa?” tambah cerita beliau kepada saya tentang putra sulungnya.

Singkat cerita, suatu saat sampailah ia ke fakultas filsafat, tempat dimana anaknya menimba ilmu. Setelah ditayakan ke dosen pembimbingnya, ternyata ia tidak pernah masuk kuliah dan teman-teman dekatnya pun tidak tahu menahu soal dia.

“Sebetulnya anaknya pinter, dan berprestasi mbak...” Lanjut beliau.

Oh… saya yang hanya sekadar bertugas sebagai “penampung”, hanya bisa membantu menyalurkan keinginan beliau untuk memperbaiki kondisi putranya. Lantas kami hubungkan beliau dengan psikiater. Saat menuturkan cerita tentang anaknya kepada saya, beliau terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi putranya…

Hhhh... where is the wrong??

 

Suatu Ketika, Ada yang Tak Sempurna
Mari Berqurban

Memilih Perguruan Tinggi
SUDAHKAH SETIMBANG ANTARA SUBSIDI NEGARA DENGAN KUALITAS?
Untuk Ayah
hari ini...
Musti Ngadep Wakil Dekan???
JOgj@ jawaBan doa ku
Merantaulah wahai saudaraku...!
BELAJAR EFEKTIF
Yang muda yang berzakat...
Haruskah Sekolah di Jurusan Komputer
WRITING RESOLUTION: PRACTICE MAKES PERFECT
Belajar ala Jenius

Nama
*)
Email
*)
Website

kode


Komentar
berikan emoticon :
selebihnya ยป

terdapat Satu komentar untuk tulisan ini

1 | Senin, 14 Desember 09
kopaska

.....?


Menuju ke Form