Judul buku : “Repubik Genthonesia, Maju Perut Pantat Mundur.”
Penulis : Mbah Dipo
Penerbit : Pro-U Media, Yogyakarta
Harga : Rp 30.000,00
Tebal : 254 halaman
Menyeruak Misi Tersembunyi
Banyak persoalan yang menghinggapi masyarakat dewasa ini. Hal ini otomatis menjadi pemikiran tersendiri bagi oknum-oknum yang termasuk didalamnya. Pola kehidupan masyarakat yang telah jauh menyimpang dari berbagai norma turut memberi warna masyarakat di negara ini. Berbagai macam kebodohan telah dilakukan masyarakat baik itu secara sadar, setengah sadar ataupun dalam kesadaran penuh. Meski sudah sering mendengar berbagai tausiyah, membaca buku-buku, dan mendengar nasihat-nasihat dari para kyai atau ulama serta mendapatkan pelajaran tata krama selama di sekolah, namun itu semua seakan tidak berbekas sehingga sulit membawa perubahan positif pada dirinya. Hal ini disebabkan karena mental yang tidak dilandasi iman sehingga mudah tergilas rutinitas keseharian yang telah menjadi suatu kebiasaan.
Disamping itu, pola-pola kehidupan yang mengedepankan hedonisme sering kali menjadikan rendahnya sebuah negara jika diberlanjutkan secara istiqomah, belum lagi mental-mental penjilat yang dengan lihai memoles wajahnya dengan kata-kata berlabel agama, dan menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu yang diinginkannya, masalah halal atau haram urusan belakangan. Dengan kemampuan amatirnya, mereka memvonis seseorang tanpa tahu akar permasalahannya. Seolah-olah ia adalah tuhan yang berhak memutuskan suatu perkara terhadap kehidupan seseorang. Inilah perilaku-perilaku masyarakat genthonesia pada umumnya dan inilah penyebab ketidakberkahan negeri yang sebetulnya sangat kaya, gemah ripah loh jinawi. Kebanyakan dari mereka tidak bersyukur dengan meningkatkan ketaatan, akan tetapi mereka selalu saja mengingkari peringatan-peringatan yang datang. Maka akibatnya bencana melanda negeri ini, dari segala penjuru.
Fenomena diatas mengingatkan kita pada sepotong Firman Allah yang tertera dalam QS Al-A’raaf 96, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpah kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Maka tidak berlebihan jika Mbah Dipo yang mempunyai nama lengkap Ki Tamtomo Madipo mengatakan bahwa bangsa ini bermental gentho yang hampir seluruh aspek kehidupan masyarakatnya berkiblat pada negara-negara yahudi. Entah mengidolakan bedak dan bengesnya yang tebal yang menutupi wajah bobroknya, ataukan sesungguhnya mengidolakan wajah aslinya yang kemproh karena kebetulan wajah negeri ini sebenarnya juga tak kalah bobroknya, hanya kurang bedak dan benges saja.
Uraian yang disampaikan penulis seakan-akan ingin menelanjangi satu persatu oknum-oknum yang merasa terlibat didalamnya. Kadangkala bahasa yang digunakan seolah membanting para pembaca yang merasa terhina, dirasa jika memang penyampaiannya musti dengan bahasa demikian mengapa tidak? Cara penyampaian inilah yang dipakai Mbah Dipo untuk mengutarakan hakikat kebenaran, atau kejengkelan, kegeraman, keprihatinan, dan segala sesuatu yang ia rasa perlu untuk berbagi sekadar memikirkan keberlangsungan negara ini.
Buku ini berpotensi mengingatkan kita akan sebuah misi sekaligus prinsip hidup masyarakat pada umumnya yang masih slintat slintut, tidak jelas dalam ”bekerja.”. Didalamnya juga memberikan nasihat-nasihat yang menyentuh dan penuh semangat tanpa melupakan fitrah, yakni tetap berpijak pada syariat Islam sehingga membuat buku ini memiliki nilai plus dengan gaya penyampaian yang berbeda dari buku-buku non fiksi lainnya.
Dengan kaplingan menarik, buku ini tersusun berdasar empat sisi, yakni sisi kelam, sisi buram, sisi kelabu dan sisi terang. Masing-masing bagian menunjukkan intensitas kebodohan masyarakat yang telah berjalan. Setiap tema yang diangkat dari setiap judul mampu membelalakkan para pembaca atas pola kehidupan yang berpotensi merusak sebagaimana biasa mereka lakukan, kemudian buku ini mencoba meluruskan dan menegaskan hakikat kebenaran yang sesungguhnya.
Seperti halnya yang tengah terjadi pada sebagian warga kampung yang sudah berasumsi bahwa yang namanya ngaji itu adalah belajar caranya tahlilan atau yasinan. Berbekal dua senjata pamungkas itu mereka berharap nantinya dapat memungkasi segala acara dengan doa yang walaupun tidak pas yang penting berbau arab dan diamini dengan sentausa. Ya… memang begitulah salah satu kondisi masyarakat yang mempunyai prinsip “yang penting ngikut”.
Tidak kalah menariknya dengan kumpulan kolom yang ditulis oleh Butet Kartaredjasa yang berjudul Presiden Guyonan. Dalam kumpulan tulisannya Butet juga menuangkan gagasan-gagasan yang dirasanya benar lewat lakon Mas Celathu dan istrinya. Ramuan bahasa jawa yang digunakannya juga cukup menarik untuk menjadikan bukunya lebih menggigit.
Pantaslah buku ini dikonsumsi bagi orang yang mempunyai akal dan digunakannya untuk berfikir, karena kumpulan kertas ini bisa menjadi inspirasi tobat dan keselamatan dunia-akhirat sesuai label yang tertera dicovernya. Meski diwarnai dengan bahasa jawa, tapi terdapat terjemahannya sehingga mudah dipahami oleh siapa saja.