Ahad, 20 Mei 12
Hendak Login? · Daftar
HomePerihalBuku Tamu
ditulis oleh Muchson pada Jumat, 06 Oktober 06kategori "AGAMA" ,dengan 1 komentar

REFLEKSI MUSIBAH GEMPA BUMI & TSUNAMI DI ACEH

Musibah tsunami 26 Desember 2004 meluluhlantakkan bumi Nanggro Aceh Darussalam. Setelah kurang lebih 3 bulan mengungsi ke Solo bersama 2 anakku yang selamat, saya kembali ke Banda Aceh sendirian. Beberap hari kemudian keponakanku kirim SMS, ?Om, apa betul di Aceh banyak terjadi kristenisasi?. Berita kristenisasi saat itu memang sangat gencar bersamaan dengan berbondong-bondongnya misi-misi bantuan dari luar negeri. ?Wah, om gak tahu itu. Mustahil mengkristenkan orang Aceh. Islam disini bukan sekedar agama tapi sudah membudaya dan menyatu dengan adat, apalagi di kampung hampir setiap anak wajib ngaji di dayah (pesantren tradisional Aceh).Memang kenapa??, jawabku. ?Kawan-kawan pengajian kami kesana, berdakwah sekaligus melawan kristenisasi?, smsnya lagi. Saya merenung. Ada lagi yang kebakaran jenggot ! Mengetahui adanya orang nasrani keliling serambi mekah, membawa makanan dalam kemasan bersalib, membawa buku-buku cerita, mengajak masyarakat menyanyi dengan lagu yang mustahil lagu qasidah. Spontanitas meretas. Ukhuwah tergugah. Seketika bereaksi. Kirim juru dakwah. Lawan kristenisasi. Misionaris datang membawa mimpi. Namun, seiring dengan berlalunya waktu, dikala saatnya mereka kembali pulang, da?i kita pun berkemas pulang. Tidur kembali. Melanjutkan mimpi lainnya. Seakan tadi itu hanya mimpi buruk yang telah lewat. Nanti, bila misionaris datang kembali, kita ulangi ritual ini. Bukankah sekarang masyarakat Aceh masih muslim? Ada kalimat Al-Ustad Drs. Ahmad Sukina yang saya catat, demikian : Kadangkala orang kita tidak yakin dengan agamanya, sehingga sewaktu datang pendeta-pendeta ke kampung-kampungnya, mereka panik dan merasa terganggu (Sabtu, 12 Nov 2005) Sebagian umat muslim meradang membaca reportase perilaku tersembunyi orang-orang barat. Sementara itu relawan muslim waspada, mengawasi, menyelidiki, menyimak aktifitas mereka. Sampai-sampai instalasi air bersih yang langsung bisa diminum, ?kalau tidak salah bantuan dari Australia ? dicurigai sebagai media dakwah kaum nasrani hanya karena, instalasi tersebut dibangun didekat gereja satu-satunya di Kota Banda Aceh. Padahal masyarakat amat sangat membutuhkan air bersih, lebih-lebih ini bisa langsung diminum tanpa perlu dimasak lagi. Pagi, siang, malam bahkan sampai tengah malam penulis menyaksikan masyarakat mengambil air tersebut. Gratis. Dalam kondisi masyarakat yang kalut. Stress. Rumah seisi-isinya tumpas. Tidak tahu dimana istri, suami, anak, saudara. Tidak tahu kemana luka berdarah di bawa. Tidak tahu apa yang akan dimakan. Tidak tahu berapa lama tinggal dalam pengungsian. Tidak tahu bagaimana nasib ke depan. Masihkah sempat mereka (atau kami, karena penulis juga termasuk pengungsi tsunami), harus memilah dan memilih mana bantuan orang nasrani, mana bantuan dari saudara-saudaranya sendiri. Dan adakah saudara-saudaraku seiman sanggup menyediakan fasilitas sebagaimana si bule itu? Akan lebih elegan bila kita berlomba-lomba dengan mereka kaum nasrani dalam menyantuni masyarakat yang adalah saudara kita seiman. Memberi fasilitas yang lebih baik dari fasilitas yang disiapkan oleh mereka yang nasrani. Atau kalau tidak sanggup memberikan fasilitas, akan lebih baik bila kita mengajak bekerja bersama mereka atau mengajak mereka bekerja bersama kita. Bukankah kita tuan rumah dan mereka tamu? Bila bekerja bersama mereka bisa kita galang, bukankah ini kesempatan kita untuk sekaligus berdakwah kepada mereka. Menyeru mereka kepada jalan Allah dengan cara yang hikmah dengan pelajaran yang baik serta bila harus membantah maka kita bantah dengan cara yang lebih baik, lebih bagus, lebih santun serta lebih bermartabat. Bila mereka menganiaya diri kita, melecehkan saudara kita cukuplah bila kita balas dengan kadar balasan yang sama. Namun bila kita bersabar, bagi Allah hal itu adalah sikap yang lebih baik (AN-NAHL [16:125-126]). Bagaimana bila mereka bukannya menganiaya kita tapi malah menolong, menyantuni, mengobati, memfasilitasi, membuatkan rumah tinggal untuk saudara-saudara kita yang seiman yang sedang ditimpa musibah. Apakah kita yang sama-sama muslim akan dan sanggup menyantuni, memfasilitasi semua itu dengan yang lebih baik, atau cukup dengan kadar yang sama atau cukup dengan sekedarnya saja atau justru malah mengawasi, mewaspadai, mencurigainya? Kristenisasi yang mereka lakukan seharusnyalah kita imbangi dengan islamisasi. Oleh sebab itu agar tujuan islamisasi tercapai maka pendatang asing kita rangkul dengan mengajak bekerja bersama kita, sehingga akan terbentuk satu komunitas. Komunitas ini kita jadikan media dalam mengabarkan kabar gembira bahwa tuhan itu hanya satu, yaitu Allah Yang Maha Esa. Bukankah orang nasranipun dalam melakukan kristenisasi selalu merangkul, menyantuni, membentuk komunitas? Masing-masing agama mempunyai hak & kewajiban dalam berdakwah. Itu adalah hak mereka dan juga hak kita. Sebagian besar mereka memang senantiasa berusaha mengajak kaum muslim agar kembali kepada kekafiran. Hal ini disebabkan oleh kebencian dan rasa dengki terhadap kebenaran ajaran Islam. Namun Allah SWT justru menyuruh memaafkan dan membiarkan mereka. Untuk membentengi hal ini Allah SWT menyuruh supaya kita tetap tekun mendirikan salat, menunaikan "zakat" serta berbuat kebaikan apa saja kebaikan yang bisa diusahakan (AL-BAQARAH [2:109-110]). Sengaja kata zakat penulis beri tanda petik, untuk mengingatkan bahwa "bila kita mau maka kita mampu" memberikan fasilitas dari dana zakat, sebagaimana halnya kaum nasrani memberi fasilitas. Masalahnya sudahkah kita menyerahkan zakat, menyisihkan sebagian (sebagian saja!) rezeki yang telah Allah anugrahkan kepadamu (AT-TAUBAH [9:103]) Selanjutnya perintah utama lainnya adalah menyibukkan diri dengan tawaa saubil haq wa tawaa saubis sabr (AL-?ASR [103: 3] ) kepada saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah tsunami dan gempa bumi. Implementasi dari tawaa saubil haq wa tawaa saubis sabr (ingat mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran) adalah dengan membentuk majlis-majlis ilmu dalam suatu jama?ah. Hal ini dilaksanakan terus menerus sepanjang kita diberi hidup, bukan menunggu bila terjadi musibah. Oleh sebab itu, spontanitas pengiriman juru dakwah yang dipicu oleh kedatangan misionaris nasrani sebagaimana cerita di awal tulisan ini, biarlah hal itu menjadi catatan tersendiri. Selanjutnya walau para misionaris telah kembali pulang, maka bukan saatnya juru dakwah kita ikut pulang, tidur dan bermimpi. Bukan. Justru harus tetap berjaga, tetap tinggal bersama masyarakat, mengajak masyarakat bersama-sama menumbuhkan majlis-majlis ilmu, menumbuhkan jama?ah serta memperkokoh jalinan persaudaraan islam. Bukankah Muslim satu dengan Muslim lainnya laksana satu tubuh? Bukankah dalam persaudaraan atau dalam jama?ah itu harus terjadi interaksi berupa Ta?aruf, Tafahum dan Takaful. Bagaimana Ta?aruf, Tafahum dan Takaful dapat direalisasikan bila engkau tinggalkan kami, kembali pulang ke kampung halamanmu dan kalian membiarkan kami menekuri sisa-sisa bencana ini. Sementara saat ini kami dihadapkan dengan dunia yang penuh senda gurau, permainan dan kemewahan yang menipu. Perputaran uang trilyunan berputar di udara yang kami hirup, jalan dan gang penuh sesak dengan mobil dan sepeda motor keluaran terbaru. Anak-anak muda kami kembali rame-rame menuju ke pantai untuk bersenda gurau, berpesta. Apakah kalian biarkan begitu saja agar kami lupa dengan musibah kemarin? Apa kalian tidak khawatir bila dibalik musibah tsunami itu ada gelombang musibah yang lebih dahsyat berupa azab karena kami akan bergelimang dengan nikmat dunia dan lupa pada-Nya. Maka mengapa engkau mendatangi kami hanya karena ada misionaris?
Waspada Terhadap Pendidikan Kapitalis
Menghamba Sepenuh Jiwa Raga

BERHATI-HATI DALAM MEMBERI FATWA
True Love
Hati-Hati Juga Penting
Begitukah Seharusnya Anak Setelah Jadi Istri
RUU APP
Dasyatnya Cinta
When I Need Loves ......
mosquee....? baca dulu...
Pudarnya pesona Cleopatra.
Sepertinya Akan Berlanjut Bencana Ini
Jangan Bosan Jadi Orang Baik
Ajarkan Lagi Kepadaku Ibu
Hati yang buta
Jangan Bosan Sabar
Pidato Bush (Laknat Allah)
MILAD, Antara Haram dan Halal
Indahnya Malam Pertama
Motivasi Islami
Menghamba Sepenuh Jiwa Raga
warning

Nama
*)
Email
*)
Website

kode


Komentar
berikan emoticon :
selebihnya ยป

terdapat Satu komentar untuk tulisan ini

1 | Sabtu, 07 Oktober 06
adi-wirawan

Semoga kita semua diberi kekuatan untuk tetap mempertahankan akidah kita hingga akhir hayat nanti, dan ketika kita dijemput malaikat kita diijinkan untuk mengucap syahadah, dan pada saatnya nanti kita akan sama-sama bertemu di surga insya Allah...


Menuju ke Form