??? ???? ????? ???? ?????? ????? ?????? ??? ??? ??????? ? ??????? ??? ????? Semoga Allah membalas kebaikan saudaraku sekalian yang tetap istiqomah mengamalkan agama ini dan mudah-mudahan Allah ta'ala menambahnya.
Allahummahdina?. Allahummahdina?Allahummahdina?
Mohon maaf atas keterlambatan jawaban ana, karena kesibukan yang tidak bisa ana tinggalkan. Sebelum ana mulai menjawab apa yang menjadi kegundahan saudara sekalian tentang artikel ana " Milad, Antara Halal dan Haram." Alangkah baiknya kita buka dahulu penutup dalam hati kita yang berupa penyakit-penyakit hati, terutama Khibr yang ada pada diri kita. Sebagaimana sebuah ember yang ada penutupnya, tidak akan masuk air walaupun banyaknya air yang ditumpahkan.
Kaidah : ????? ?? ??????? ??????? , jelas bukan dari hadist, kaidah ini termasuk kaidah usul fiqh, sebagaimana kita mengenal kaidah dalil 'Am dan dalil Qosh. Dalil Qosh lebih di pakai dari pada dalil 'Am. Sebagaimana dalil tentang solat dalam al qur'an di terangkan secara detail lewat hadist. Anehnya beliau menanyakan kaidah ini" Kaidah ini apa diambil dari hadits shohih atau murni kesimpulan (baca: Hasil Pemikiran)ulama dari hadits yang ada?" secara tidak sengaja memakai kaidah ini dalam mendefinisikan tentang bid'ah ( baca: [1] Perbuatan bid'ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; KARENA ASAL DARI SEMUA ADAT ISTIADAT (KEBIASAAN) ADALAH MUBAH ) ana cuma berkhusnudlon baik saja. Dan secara tidak langsung beliau meng-iyakan bahwa adat istiadat adalah mubah.
Ana menangkap dalam penyampaian pendapat, kurang enak dirasakan di hati." SAYANG PEMIKIRAN "PEMBERONTAK" SEPERTI INI NDAK PERNAH DIHIRAUKAN.... Kasimaaannnnnn........" hal ini yang ke-dua kalinya yang ana dengar dari seorang muslim. ana sangat tahu dan mengerti kata-kata ini menunjuk kepada siapa. "DR Yusuf Qordowi". ana tahunya saat ada beda pendapat dangan teman ana (orang Saudi) yang menyatakan dirinya seorang salafi dalam suatu masalah, kemudian ana mengemukapan fatwa dari Syeikh DR Qordowi, mirip sekali yang dia ucapkan seperti diatas bahkan di tambah ucapan (kalb) yang tidak layak keluar dari seorang muslim.Na'udzubillahi min dzalik Kenapa harus keluar ucapan semacam itu kalau memang beda pendapat? Memang dalam masalah ulangtahun anak beliau mempunyai pendapat " Misalnya, pada saat anak itu berusia 7 tahun, tidak ada salahnya kita ajak dia untuk menyampaikan pesan-pesan dalam acara khusus tentang keadaannya yang kini menginjak usia 7 tahun. Di mana Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada para orang tua untuk menyuruh anaknya shalat di usia itu." Coba kita lihat pribadi DR Yusuf Qordowi, bisa dilihat referensi dari http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/456cf977.htm . Pasti kita juga tidak asing dengan fatwa ini " Setiap barang yang kita beli dari pruduk Israel dan Amerika, secara tidak sengaja kita telah membunuh warga Palestina dengan uang kita".fatwa ini tidak lain keluar dari lisan beliau. Dan masih banyak lagi kerja beliau sebagai pimpinan organisasi islam sedunia.
Bagaimana kita menyikapi pandapat seorang ulama, apakah kita menilai dengan harga mati? Coba kita tengok pendapat ulama yang lain, sekarang kita menengok kumpulan fatwa ulama dunia yang di pimpin langsung oleh DR. Yusuf Qordowi. Dalam website resminya http://www.islamonline.net/Arabic/index.shtml . Alhamdulillah sudah di terjemahkan ke dalam bahasa English juga http://www.islamonline.net/English/index.shtml kita liat bagaimana beliau-beliau menyikapi tentang Birthday. Ana ambilkan contoh pertanyaan dari seorang kebangsaan United Kingdom, yang kebetulan dia muslim dan kebetulan adat di tempat dia merayakan hari tersebut. Bisa di lihat referensinya di sini berikut isinya :
Name of Questioner : Shamil - United Kingdom
Title : Islam's Stance on Celebrating Birthdays
Question :
What does Islam say about celebrating birthdays? Is it permissible to celebrate birthdays? My children sometimes insist on having a birthday party where we make a cake and light candles. We do not sing or do such things; we just blow out the candles and congratulate them.
Date : 04/Mar/2004
Name of Counsellor : Group of Muftis
Topic : Social Manners
Answer :
In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.
Dear questioner, thank you for your question and the confidence you place in our service and we pray to Allah to enable us to render this service purely for His Sake.
Islam teaches Muslim to have a unique character and to be distinguished. A Muslim is weaned on morality and avoiding blind imitation. Islam supports the celebration of a birthday if it is an expression of gratitude to Allah for His bounties, sustenance and blessings in man?s life, as long as that celebration does not include anything that may displease Allah, the Almighty.
Focusing on the issue of celebrating birthdays, we would like to start by citing the following:
"In Islam, birthdays are not considered `eid (a festival) like `Eidul-Fitr or `Eidul-Adha, because `eids have conditions and guidelines such as not being allowed to fast during the days of Eid. Therefore, birthdays are simply occasions of a person's date of birth and are a matter of culture. If a person wants to commemorate his/her date of birth, then he/she may do so, especially if he/she takes the opportunity to reflect on the past and pledge to be better during the following year. However, to make the birthday an important occasion is not recommended or encouraged." (Excerpted, with slight modifications, from: www.islamicity.com)
Shedding more light on the issue, the prominent Muslim scholar Sheikh Tajuddin Hamid Al-Hilali, Mufti of Australia and New Zealand, states:
"A Muslim has a distinguished personality. He should not imitate others in evil things and leave the good ones. Talking to our children about their birthdays, we should remind them that on such days they should remember the blessings of Allah and praise Him for giving them life and guidance. It would be better if we ask them to offer something in charity as a form of showing gratitude.
Still there is nothing wrong if we try to make them feel happy on that day as long as we are using lawful things. It is better if we make it a day ahead or a day after. You said that your children insist on having such a celebration, and this is really dangerous. If the child insists on having his desires fulfilled at this early age, what is going to happen when he grows older? We need to be alarmed and never allow Western traditions that are based on individualism, to ruin our families. Thus, calling birthdays `eids is not accepted, for this has no basis in Islam. At the same time, there is nothing wrong if we use these occasions to inculcate Islamic principles in our children, like showing gratitude to Allah, praising Him and seizing the chance of this life in performing good deeds since the older we grow the nearer to the grave we come."
Speaking about the same issue Sheikh Faysal Mawlawi, Deputy Chairman of the European Council for Fatwa and Research, adds:
?Permissibility is the original ruling in this case, as there is no evidence of prohibition. The principle of not following the Jews and Christians is really required in matters of their false claims and beliefs in relation to religion. Such beliefs are no more than disbelief from an Islamic perspective.
Islam supports the celebration of birthdays if it is an expression of gratitude to Allah for His bounties, sustenance and blessings in man?s life, as long as that celebration does not include anything that may displease Allah, the Almighty.
In this context the Prophet (peace and blessings be upon him) was asked about fasting on Mondays, and he answered: ?It is the day on which I was born.? Muslim scholars take this hadith and the hadith of fasting on the Day of `Ashura? (10th of Mharram) as evidence on the permissibility of celebrating good occasions, which have special significance in our religion such as occasions like the birthday of the Prophet (peace and blessings be upon him).
In this context, people must be aware that celebrating such occasions, e.g. the Prophet?s birthday, is no more than a matter of habit, and by no means a religious requirement. However, if it entails any forbidden practices, such a celebration becomes forbidden for that reason alone. Moreover, a celebration of this sort becomes recommended if it includes recommended acts of worship.
It is also right to say that such celebrations contain some aspects of innovation, however it is an innovation in matters of popular habits not in matters of religion. Actually innovation in habits is not prohibited. What is prohibited in this context is innovation in religion, as indicated in a well-known Prophetic hadith.
By analogy, there is nothing wrong in celebrating birthdays, as long as the celebration does not include any forbidden practices.?
Sekarang kita dapati dua fatwa yang berbeda, dengan pengambilan istimbat yang berbeda juga. Bagaimana kita menanggapinya? Apakah kita juga menghukumi sebagaimana hukum isbal? Yang memanjangkan pakaiannya di bawah mata kaki masuk neraka.Na'udzubillahi min dzalik. Kita kembalikan pada diri kita masing-masing, tidak usah memcerca saudara kita, menganggap diri kita yang paling benar, apalagi mencemooh dengan kata-kata yang tidak layak di ucapkan oleh seorang muslim. Ibarat kita menunjuk seseorang, jari telunjuk kita menunjuk ke orang itu, tetapi 4 jari yang lain menunjuk ke diri kita sendiri.
Tambahan : ana di Saudi kebetulan berada di satu Propinsi dengan kediaman Syeikh Soleh Utsaimin rohimallahu anhu. Cuma bedanya, ana di pusat propinsinya (nama kota=Buraydah) sedang kediaman beliau di kabupatennya (nama kota= unayzah).perjalanan sekitar 1/2 jam. Perlu di ketahui bahwa di Saudi tiap tahun memperingati hari kemerdekaannya, sebagian besar perusahaan dan toko tutup saat itu, hal ini sudah berjalan puluhan tahun. Dan selama ana di sini belum pernah ana dengar seorang ulama menfatwakan bahwa hal itu haram. Mohon maaf ada sedikit koreksi tentang penggunaan kata firqoh, di arab kata firqoh adalah kiasan yang jelek yang menggambarkan aliran yang sesat atau seseorang yang memotong-motong agama menjadi beberapa bagian.