Aku bukanlah seorang malaikat yang mampu melihat semua perbuatan baik buruknya manusia. Bukan juga malaikat yang tanpa dosa, melainkan seorang yang tiap harinya hanya mengayuh pedal becakku. Di setiap sudut kota selalu ada yang menyamai, entah kenapa profesi ini banyak yang memilih. Mungkin tidak perlu berfikir banyak kali, cukup bermodal kemauan dan sarapan nasi yang banyak sudah cukup. Meski demikian, aku telah mewanti-wanti putra putriku untuk tidak mengikuti jejakku. Aku ingin mereka bisa menjadi insan yang lebih bermanfaat dari keadaanku sekarang.
Waktu senjapun mulai bertandang, situasi ini membuatku semakin bertambah bingung. Semakin berlalu Sang waktu hatiku semakin terburu. Bagaimana tidak? Seharian bekerja hanya mendapat uang 10.000 ripis, itu pun buat makan siang 3.000, masih sisa 7.000. Dapat apa macam uang 3.000 ripis dijaman sekarang? Hanya nasi satu porsi kucing berlabel ikan teri plus sambal trasi. Minumnya tak perlu yang muluk-muluk, cukup air putih dari kendi Mbok Sumrah yang dingin dan menyejukkan ternggorokanku. Itu saja sudah cukup.
Hanya 7.000 ripis yang ada dalam lipatan celanaku. Rasanya berat jika bertemu istri dan anak-anak dirumah. Si bungsu selalu berharap ada buah tangan yang bisa ia makan atas penantian kedatanganku. Istriku berharap-harap cemas atas usahaku seharian penuh. Terkadang ia bersikeras ingin membantuku untuk bekerja sesuai kemapuannya, tapi aku melarangnya. Aku lebih suka jika ia dirumah mengurus rumah dan mendidik anak-anakku. Kugantungkan impianku pada pundak mereka agar kelak menjadi orang berguna. Itulah impianku. Putra sulungku kelada 4 SD. Aku sudah berjanji, besok aku akan memenuhi cicilan SPP yang sempat menunggak beberap bulan, karena aku belum sanggup membayarnya. Apa boleh buat, hari ini aku sengaja terlambat pulang demi kebahagiaan putra-putriku. Ironis bukan?? Ya. Kuharap istriku bisa menenagkan mereka dan paham akan hal ini.
“Kurasa jam sekian anak-anakku sudah tertidur.” Benak pikir dan instink ku mengatakan demikian. Segera saja aku bergegas pulang setelah mengantarkan seorang klienku yang berhasil mengadakan kontrak denganku 30 menit yang lalu. Hehe… rasanya berlebihan bukan jika aku mengatakan pelangganku sebagai klien? Begitulah caraku menghibur diri. Sampai dirumah ternyata benar. Pangeran dan putri kecilku telah tertidur pulas karena lelah menanti kedatanganku. “Mereka bisa kuajak kompromi setelah menanyakanmu berulang-ulang.” Kata istriku sembari menyajikan secangkir kopi untukku.
Saat aku melihat satu per satu perubahan posisi gerakan tubuh istriku, serasa ada yang mengganjal dalam tenggorokanku, rasa iba dan haru melihat ketabahannya menjalani hidup bersamaku. Disaat kondisi semacam ini ia masih rela melayaniku dengan sempurna. Bahkan tidak cuma sekali, dua kali kesempitan rejeki semacam ini sudah kami alami berkali-kali. Beberapa kali juga ia membujukku untuk mengijinkannya bekerja membantuku mencari tambahan rejeki, tapi aku tetap tidak mengijinkannya. Karena masa depan anak cucu dan keturunanku ada ditangannya. Aku akan bertahan meski sesulit apapun. Ia pun tetap menyunggingkan senyum dibalik manis bibirnya terhadap penolakanku. Itulah mengapa aku memilih dia menjadi istriku.
Sejurus kemudian, aku memasuki ruangan sempit dengan cahaya remang-remang di sebelah kanan rumah. Aku segera membersihkan noda dan debu-debu yang seharian menempel ditubuhku. Istriku telah menyiapkan air hangat beserta handuknya sekalian. Inilah kebiasaan yang kusuka darinya ditambah kebisaan baik lainnya. Ini bersifat rahasia. Jadi mohon maaf jika aku tidak bisa mengutarakannya. Setelah selesai mandi dan urusan penting lainnya, aku duduk diruang tengah. Sebenarnya tidak ada ruang tengah dalam rumah kami, hanya saja ruangan itu terletak diantara dapur dan teras, jadi sebut saja itu ruang tengah, ruang tempat kami sekeluarga bercengkerama, menafakuri segala sesuatu yang terjadi pda kami dan rencana kedepan. Kupanggil istriku saat ia menjahit celana putraku yang robek dengan jarum dan benang hitam. Ia terlihat sangat lelah setelah seharian mengurus rumah dan putra putri kami. Sekarang ia berada agak jauh dariku, duduk disudut ruangan sambil bersandar di dinding dimana putriku yang bungsu sedang tertidur pulas disebelahnya. Saat ia beranjak memenuhi panggilanku, aku mencegahnya. Kukatakan, “Biar aku saja yang kesitu.” Lalu aku bergerak kearahnya dan duduk persis disampingnya. Tidak ada jarak diantara kami. Kami duduk berdampingan. Lalu ia menatapku sungkan. Kukatakan padanya, “Apa yang terpikir olehmu dengan keadaan kita semacam ini? Seharian tadi aku hanya mendapat uang 17.000 ripis. Ini, semua kuberikan kepadamu, untuk makan anak-anak kita besok. Maaf ya, kalau tidak cukup.” Kusodorkan 3 lembar uang lima ribuan ditambah dua lembar uang ribuan kepada istriku.
Aku menatap kedua bola matanya, agak lama memang. Sepanjang aku menatapnya perasaanku semakin merasa bersalah. Sebagai seorang suami sekaligus kepala rumah tangga aku belum bisa membahagiakan mereka. Untuk makan sehari-hari saja minim apalagi untuk kebutuhan sekunder lainnya. Uang yang kusodorkan tidak segera diterima istriku, aku menatapnya bimbang. Kulihat kedua bola matanya berkaca-kaca diimbangi bibir yang bergetar kala melihatku. Lalu dengan masih membawa celana putraku, tiba-tiba ia mendekapku pelan. Ia berkata dengan terbata dengan masih mendekapku erat tubuhku.
“Semoga Allah melimpahkan berkah pada keluarga kita, Mas sudah cukup berusaha. Aku tidak akan menuntut diluar kemampuan Mas.” Perlahan ia melepas pelukannya. Kulihat air matanya masih menetes membasahi kedua pipinya. Melihat demikian, Aku ingin menyeka airmata yang membasahi kulit pipinya yang halus dengan permukaan kasar tanganku agar laju air mata yang terus mengalir terhenti. Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya saja perasaan dan benakku sepakat mengatakan padaku bahwa ‘aku beruntung punya istri secantik dia, cantik menurut versiku tentunya. Sekali lagi, itulah mengapa aku memilih dia.