Ahad, 20 Mei 12
Hendak Login? · Daftar
HomePerihalBuku Tamu
ditulis oleh ubaidillah pada Senin, 03 Maret 08kategori "MTA JOGJA" ,dengan 2 komentar

Liku Liku Kehidupan

Seorang tukang kayu yang sudah tua dan tidak lagi mampu bekerja karena
alasan fisik, bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan
konstruksi. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan.

Tentu saja, karena tidak lagi bekerja, ia akan kehilangan penghasilan
bulanannya untuk menghidupi keluarganya.
Namun keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan
menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan
keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah
untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.
Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak
sepenuhnya dicurahkan. Dengan perasaan malas dan ogah-ogahan ia mengerjakan
proyek itu. Dan saat membangun rumah pesanan majikannya itu, ia menggunakan
bahan-bahan dengan kualitas yang sangat rendah.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah
dengan kualitas yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya
dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. "Ini adalah rumahmu,"
katanya, "hadiah dari kami." Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa
malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya
mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya
dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah
yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang
membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha
ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian
terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik.

Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan
dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan
sendiri. Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani
hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu.
Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku,
memasang papan, mendirikan dinding dan atap.

Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya
mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu
hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan
kejayaan.

Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi?

*Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini.
Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun
akan masuk dalam barisan kemenangan. *

*Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri.*
Naik Bus Trans Jogja
Yang muda yang berzakat...

Lihat Lebih Dekat
sajak
ISIAN GELOMBANG I (Tafsir Al-Baqarah ayat 67 - 71
Thanks To My Parent
PALAMTA TOUR DE NGANJUK
Kudanya Pengembara
JEC bersama dalam Iedul Adha
Sebuah Mimpi Masa Depan...
CERPEN : 21:12
Bekasi Ceria, Korea Gembira
Narasi Seorang Pemimpin
TABU YANG TERLUPAKAN....
Mengapa Aku Memilih Dia
pengajian bantul
AWas LOCH ada virus MERAH JAMBU!
kunjungan ke sma
MOTIVATION
Occupational therapy
Sebuah Resensi
pengalihan paradigma

Nama
*)
Email
*)
Website

kode


Komentar
berikan emoticon :
selebihnya ยป

terdapat 2 komentar untuk tulisan ini

1 | Senin, 10 Maret 08
add_

betul, setuju, tengkyu mas ubaid


2 | Selasa, 11 Maret 08
Fajar

Bener banget Mas ubaid, dengan membaca tulisan ini, aku jadi makin sadar, bahwa hidup sekali jangan sampai ra tenanan


Menuju ke Form