Suatu hari, saya mengikuti seminar di kampus saya tercinta tepatnya di ruang K1.12 jika masuk dari utara, jika dilihat dari selatan, ruang itu bernama K1.07, maklum ruangan itu punya dua pintu, jadi penomeran di MIPA tuh bukan ruangnya tapi nomer pintunya.
Hus, malah ngomongin ruangan. Yang penting disini adalah isi seminar itu sendiri. Aku pemnegn semua orang tahu. Seminar itu berkisar tentang bisnis integent, perang keamanan, sadap-sadapan dan lain sebagainya. Yang ngisi itu banyak, salah satunya mantan Marinir, beliau tahu betul apa yang terjadi dengan kapal perang Indonesia yang dibeli dari salah satu negara besar di dunia. Kapal itu talah dikendalikan oleh produsennya sedemikian rupa sehingga kita tidak bisa berkutik dengan produsen kapal ini.
Sebenarnya kapal ini sehat diluar, ada rudalnya, ada radarnya dua. Yang satu radar untuk perjalanan lainnya untuk menentukan sasaran. Kedua radar ini sangat penting karena bisa dianggap sebagai mata dari sebuah kapal. Ketika suatu penyerangan, olehsiprodusen kapal ini, radar untuk menentukan target pasti mati dulu sebelum ketemu. Berarti kayak orang bawa senjata api, tapi matanya ditutupi, bagaimana bisa menembak?
Kasus lain adalah banyaknya kebocoran informasi kemana-mana. Karena bsnis sadap menyadap. Mungkin informasi itu nggak begitu penting di Indonesia sendiri tapi bagi pihak yang menyadap, informasi ini menjadi penting untuk mnentukan sikap terhadap yang telah tercuri informasinya ini.
Banyak lagi dan banyak lagi ulah "usil" pihak asing dan dijelaskan secara gamblang, bahkan beberapa penyadap yang ditemukan di gedung-gedung pemerintah berupa alarm, tombol yang katanya untuk keamanan dubes, bahkan pohon asli pohon.
Kalo ditulis semua nggak cukup deh, waktunya lama. Yang mengharukan sampai adapendengar putri yang menangis. Diasedih sampai segitunya negri kita ini "diusilin" sama pihak asing.