Beberapa hari yang lalu (21 April 2007) telah kita ketahui bahwa hari tersebut merupakan hari istimewa bagi setiap wanita, karena mengandung sejarah yang sangat berarti bagi kaum wanita pada khususnya. R.A Kartini merupakan tokoh yang perlu diacungi jempol, karena dengan keberaniannya mampu mendobrak keterbelengguan wanita dari budaya dan telah membebaskan wanita dari keterpurukan nasib. Yang semula hanya berperan di dapur, menjadi seorang yang berpendidikan yang mana mampu mengangkat derajat kaum wanita dari budaya mengikatnya. Hingga sekarang jasa-jasa beliau bisa dinikmati oleh kaum wanita seluruh Indonesia. Kita tunjukkan bahwa kaum wanita tidak hanya mampu berperan di dapur dan kasur, tapi juga mampu berperan dikancah dunia pendidikan.
Dalam hal pendidikan wanita boleh lebih tinggi dari pada pria, walaupun pada akhirnya peran wanita dibelakang suami. Namun demikian ilmu yang didapat oleh seorang wanita selama ia mengenyam dunia pendidikan harus bermanfaat saat ia menjabat sebagai seorang istri. Disitulah peran istri saat ia mulai berkecimpung dalam keluarga. Jika semua wanita tidak berpendidikan, bagaimana ia bisa memperbaiki generasi selanjutnya? Karena dalam mendidik anak memerlukan pengetahuan yang cukup. Mungkin pendidikan istri boleh rendah, tapi asalkan tidak bosan belajar tentang apapun, insyaAllah itu cukup bisa menjadi modal utama untuk mendidik anaknya. Hal tersebut saya kira perlu dipahami oleh setiap ibu, calon ibu, dan semua wanita.
Namun zaman sekarang, banyak wanita Indonesia menganggap bahwa dirinya berhak melakukan sebagaimana apa yang dilakukan kali-laki. Mereka beralasan mengapa laki-laki boleh melakukan ?sesuatu? tetapi wanita tidak boleh? Atau mungkin orang lain menganggap ?sesuatu? hal tersebut adalah suatu hal yang tabu untuk dilakukan oleh seorang wanita, meskipun wanita bisa melakukannya. Mereka menuntut kesetaraan gender. Fenomena tersebutlah yang mungkin bisa menjadikan pola pikir wanita sekarang banyak memberontak terhadap suaminya.
Memang ada suatu hal yang mana bagi wanita boleh bersaing dengan laki-laki, namun demikian Allah sudah menjadikan laki-laki dan wanita dengan kodratnya masing-masing, tidak bisa segala sesuatunya disamaratakan. Kodrat wanita adalah mengandung, melahirkan, menyusui, merawat anak, mengurus rumah tangga, dan berbakti pada suami. Namun perlu diketahui dibalik kodratnya tersebut terdapat kelebihan dan ada nilai tersendiri di hadapan Allah jika ikhlas melakukannya.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa tegaknya suatu negara tergantung pada wanita. Disisni, wanita sebagai sorotan utama untuk memperbaiki suatu negara. Jika semua wanita mengetahui setiap kewajiban dan haknya sehingga mampu menempatkan posisinya diberbagi peran, maka negara akan bisa bangkit dari keterpurukannya. Salah satu contoh yang mudah, wanita berperan sebagai istri, dimana peran tersebut sangat essensial bagi seorang suami dalam kehidupanya. Seorang istri harus memiliki kemmpuan untuk bisa meyakinkan suaminya dikala suami dalam keraguan, mengingatkan keinsyafan dikala suami dalam kealpaan, menyalakan harapan dikala suami kehilangan keyakinan, (sepeti dalam lagu itu lho?) serta menunjukkan ketawadlu?an dihadapan suaminya, tentunya semua itu didasarkan atas petunjuk Allah. Itulah sekilas tentang kewajiban dan hak seorang wanita dalam hidupnya.
Dari kesemua itu, maka kurang tepat jika kata-kata ?emansipasi wanita? digunakan dengan alasan hanya untuk ?Jor-joran (istilah jawa)? dengan laki-laki, dan menuntut semuanya setara dengan kaum Adam. Kata-kata ?emansipasi wanita? mungkin akan lebih cocok bila diganti dengan ?partisipasi kaum hawa?, karena didalamnya tersimpan suatu makna ketaatan, kesabaran, seorang istri terhadap suami.