Ahad, 20 Mei 12
Hendak Login? · Daftar
HomePerihalBuku Tamu
ditulis oleh adi wirawan pada Ahad, 20 Agustus 06kategori "AGAMA" ,dengan 5 komentar

Begitukah Seharusnya Anak Setelah Jadi Istri

Seorang wanita memang diperintahkan untuk tunduk kepada suaminya, bahkan dalam suatu hadits diterangkan bahwa kalau seandainya seorang manusia boleh tunduk kepada manusia lainnya maka akan diperintahkan istri untuk tunduk kepada suaminya. Memang indah dalam bayangan kita bagaimana seorang istri yang sholekhah akan menuruti si suami yang tentu sholeh. Namun apakah pada aplikasinya mereka yakni para istri hanya memperhatikan suaminya saja dan keluarganya saja tanpa memperdulikan keluarganya dahulu, memperhatikan orang tuanya adik-adiknya dan kakak-kakaknya. Adalah tidak fear tentu ketika orang tua yang sudah mendidik dan juga merawat selama berpuluh tahun, namun ketika sebuah ikatan yang baru yang ternamai pernikahan maka hubungan kekeluargaan dengan orang tua dan juga anggota keluarga yang lama seakan hilang, dan lenyap begitu saja. Bukankah hal yang sangat disayangkan tentunya. Ada beberapa memang yang sempat terekam, bagaimana kekecewaan orang tua dengan wajah rentanya dan pengharapan yang begitu mendalam tentang si anak yang sudah menjadi seorang istri, pengharapan untuk diberikan sedikit perhatian, sedikit kasih sayang, sedikit kegembiraan, namun pengharapan itu laksana lenyap sirna dan tak berbekas, ketika si anak entah dengan alasan yang bagaimana seakan menghindar dari keluarganya yang dahulu. Sungguh sebuah situasi yang amat disayangkan tentunya, bagaimana bila kekecewaan yang mendalam terasa pada diri orang tua kita, diri keluarga kita yang lain, bukankah mereka juga berhak memiliki rasa kerinduan ingin diperhatikan, rasa kerinduan memiliki kakak, rasa kerinduan memiliki adik walaupun adik ataupun kakak ataupun anak tersebut sudah menjadi milik orang lain. Jangan sampai kutukan keluar dari orang-orang yang menyayangi kita, namun karena kurangnya komunikasi dan lain sebagainya menyebabkan kata-kata kutukan dan kekecewaan keluar dari mulut mereka, dan akhirnya tentu kita tidak ingin mati kita dalam keadaan suul khotimah akibat banyaknya kekecewaan mendalam yang kita tinggalkan pada orang yang dahulu pernah kita sayangi atau minimal orang yang menyayangi kita. Semoga kita diberi kepekaan hati dan pikiran untuk menjaga perasaan dan ukhuwah dengan orang-orang yang kita sayangi.
penting untuk disimak
Namakan Saja Pitulasan

Bedakah Milad Individu dengan Milad Halaqoh/Firqoh?
Ajarkan Lagi Kepadaku Ibu
Pudarnya pesona Cleopatra.
Pidato Bush (Laknat Allah)
Hati yang buta
Baca sambil minum kopi n makan blanggreng...wah, sip tenan ki
Motivasi Islami
NASIHAT
Pengantar Nikah
Waspada Terhadap Pendidikan Kapitalis
dEEpEsT...
calon PENGHUNI....
Pernahkah Kita Bertanya ?
jangan cemberut
pikir...
February, 3 2009 in Ngawen
AKAL SEHAT MENOLAK FAHAM SESAT (beriman saja koq repot)
HADITS-HADITS DHAIF YANG TERSEBAR SEPUTAR BULAN RAMADHAN
MILAD, Antara Haram dan Halal
Beragama Dengan Benar

Nama
*)
Email
*)
Website

kode


Komentar
berikan emoticon :
selebihnya ยป

terdapat 5 komentar untuk tulisan ini

1 | Selasa, 22 Agustus 06
mas Fajar

Seorang wanita yang solihah harus berbakti kepada orang tua, itu hukumnya wajib jika wanita ini adalah gadis (belum bersuami). jika wanita ini telah bersuami, maka kewajibannya untuk berbakti adalah pindah kepada suaminya sepenuhnya. Disinilah letak peran orang tua saat anaknya dipinang oleh seorang laki-laki. orang tua harus jeli apakah calon menantu ini soleh atau tida. Karena ada suatu hadits, pada masa Rasulullah saw, ada seorang wanita yang ditinggal pergi suaminya keran bertugas ke luar kota. Pada saat suaminya diluarkota, terdengar kabar bahwa ibunya sakit. Dia tidak mengunjungi ibunya karena belum mendapat izin dari suaminya. Setelah beberapa hari. Ada berita lagi bahwa sakit ibunya sudah sangat para, namun iat tetap tidak menjenguk ibunya dengan alasan yang sama. Setelah beberapa hari lagi, ada berita bahwa ibunya telah meninggal, namun ia juga tidak ikut datang melayat dengan alasan yang sama. Karena itu semua tetangga (pada masa rosulullah, tentunya tetangganya adalah sahabat nabi juga ~ RED) menganggapnya bukan anak yang berbakti. namun rasulullah saw bersabda, Ibu ini masuk surga karena bakt anaknya ini. Hal yang seolah-olah salah, dimata kita, ternyata malah benar dihadapan Allah


2 | Selasa, 22 Agustus 06
adi-wirawan

tapi apakah terus lepas begitu saja seorang istri terhadap kelangsungan hubungan dengan keluarganya, sedangkan dengan orang lain saja dianjurkan untuk menjalin silaturahmi, tetapi mengapa, untuk keluarga sendiri mereka dengan mudah melepaskan. Memang peran suami sangat vital di sini bagaimana dia mendidik si istri menjadi baik.


3 | Selasa, 22 Agustus 06
mas fajar

Seorang suami yang baik tentunya membolehkan, atau bahkan mengantarkan istrinya mengunjungi keluarganya, bukan melarangnya. kalo dilarang, ya bererti si suami yang musti didik


4 | Senin, 27 April 09
mawar biru

kepada para lelaki.....jadilah lelaki-lelaki yang mithali....agar mudah dirimu dalam mengendalikan bahtera rumah tanggamu...untuk para wanita....bekalillah ilmu yang mantap dan hati iklas...jadikan pasangan jiwa kita ladang pahala dalam rangka taat kepada Allah dan rosulnya....insya allah jika ada gesekan dan benturan..kembalikan semuanya kepada Alqur'an dan sunnah nabi....yukk gapai keluarga SAMARA.


5 | Jumat, 7 Agustus 09
mawar biru

suami yang sholeh tentu punya menejemen komunikasi yang baik,baik intern maupun ekstern..tentu ini sebanding pemahaman agama yang baik dalam mencontoh rosululloh dalam membentuk pribadi suami yang mithali.


Menuju ke Form