Rabu, 8 September 10
Hendak Login? · Daftar
HomePerihalBuku Tamu
ditulis oleh ubaidillah pada Sabtu, 16 Juni 07kategori "AGAMA" ,dengan 1 komentar

Bedakah Milad Individu dengan Milad Halaqoh/Firqoh?

Berikut ini ada artikel yang selayaknya bisa kita jadikan referensi untuk "istafti qolbak"....So? Sebaiknya kita tidak sungkan - sungkan mengakui kesalahan langkah kita...

Sekarang pertanyaannya adalah apakah beda antara milad individu dan milad halaqoh?

Esensi ULANG TAHUN adalah : Mengingat dan menjadikan hari besar kelahiran sesuatu

HUKUM MERAYAKAN ULANG TAHUN ANAK


Oleh
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin





Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya ?

Jawaban.
Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

“Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.

Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.

Pertama.
Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.

Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”

Kedua.
Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”

Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan ‘ Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk –semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh” [Al-A’raf : 182-183]

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan” [Ali-Imran : 178]

[Fatawa Manarul Islam 1/43]

[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]

Cuma Sekedar Cross Check Tulisan Muh Nu...
Menyikapi perbedaan Pendapat

MILAD, Antara Haram dan Halal
mosquee....? baca dulu...
Pengantar Nikah
Beragama Dengan Benar
AKAL SEHAT MENOLAK FAHAM SESAT (beriman saja koq repot)
dEEpEsT...
Pudarnya pesona Cleopatra.
Jangan Bosan Jadi Orang Baik
24 Tips Menempuh Kehidupan
Sebuah renungan
February, 3 2009 in Ngawen
jangan cemberut
True Love
Motivasi Islami
Baca sambil minum kopi n makan blanggreng...wah, sip tenan ki
Untuk Sebuah Salah Sambung...
Dasyatnya Cinta
Hati-Hati Juga Penting
Hati yang buta
Sepertinya Akan Berlanjut Bencana Ini

Nama
*)
Email
*)
Website

kode


Komentar
berikan emoticon :
selebihnya Â»

terdapat Satu komentar untuk tulisan ini

1 | Rabu, 20 Juni 07
alip

saya kira mta tidak mengadakan perayaan ulang tahun. acara pada september nanti adalah acara dalam rangka sebagai media komunikasi dakwah kepada masyarakat indonesia. bahwa mta adalah lembaga dakwah yang legal secara hukum dan diakui negara. kalau kita lihat berbagai tantangan di daerah-daerah, salah satu sebabnya adalah kurang efektifnya sarana komunikasi yang ada. konflik di berbagai daerah menunjukkan mta tidak populer secara kelembagaan di masyarakat. dengan komunikasi yang efektif, secara lembaga mta akan populer dan diterima dalam masyarakat. sehingga jika ada perbedaan pendapat dalam masyarakat, masyarakat akan menerimanya sebagai anggota massyarakat. kita lihat lembaga lain yang dapat membangun kominikasi dengan baik, walaupun belum lama, mereka dapat menarik dan disambut dengan suka cita oleh masyarakat. radio, tv dan acara yang akan diadakan nanti mudah-mudahan menjadi sarana komunikasi yang efektif dalam dakwah ini. cmiw


Menuju ke Form